Selasa, 28 Juli 2015

THRESHOLD DENGAN RANGSANGAN TUNGGAL DAN UJI PASANGAN UJI DUO TRIO UJI TRIANGLE



A.  THRESHOLD DENGAN RANGSANGAN TUNGGAL DAN UJI PASANGAN
I. Teori
Uji inderawi merupakan pengujian terhadap sifat karakteristik bahan (pangan) menggunakan indera manusia. Sehingga dalam aplikasinya diperlukan suatu kepekaan yang tajam. Salah satu bagian dari uji inderawi adalah uji threshold. Metode pengujian threshold  merupakan salah satu metode untuk pengujian panelis dalam penentuan sensitivitas. Metode ini digunakan untuk menentukan tingkat konsentrasi terendah suatu substansi yang dapat dideteksi  absolutethreshold) atau perubahan konsentrasi terkecil suatu substansi yang dapat dideteksi perubahannya (difference threshold). Biasanya substansi yang mau dikaji dilarutkan dalam air murni, dan panelis diminta untuk menilai sample mana yang berbeda dengan air, dalam hal ini air murni juga disajikan sebagai pembanding (Sapta 2010)
Ambang rangsangan atau threshold adalah suatu konsentrasi bahan terendah yang mulai dapat menghasilkan kesan yang wajar. Ambang rangsangan terdiri dari 4 macam yaitu :
1.    Ambang Mutlak, yaitu jumlah benda perangsang terkecil yang dapat menghasilkan kesan atau tanggapan. Misalnya konsentrasi yang terkecil dari larutan garam yang dapat dibedakan rasanya dari cairan pelarutnya yaitu air murni. Pengukuran ambang mutlak didasarkan pada konvensi bahwa setengah (50%) dari jumlah panelis dapat mengenal atau dapat menyebutkan dengan tepat akan sifat sensoris yang dinilai.
2.    Ambang Pengenalan, disebut juga recognition threshold. Ambang  pengenalan dapat dikacaukan dengan ambang mutlak. Jika pada ambang mutlak mengenai kesan yang mulai diperoleh atau dirasakan maka pada ambang pengenalan meliputi pengenalan atau identifikasi jenis kesan (Mailgard 1999). Dalam hal ini jika kesan kesan itu berupa rasa asin, misalnya rasa asin itu betul-betul mulai dapat diidentifikasi oleh pencicip. Pada ambang mutlak mungkin rasa asin itu belum diidentifikasi dnegan tepat, baru dapat diketahui adanya rasa yang berbeda denganbahan pelarutnya. Perbedaan ini menyangkut juga metode pengukurannya yang berbeda dengan ambang pengenalan dan ambang mutlak. Pengukuran ambang  pengenlan didasarkan pada 75% panelis dapt mengenali rangsangan. Jadi ambang pengenalan dapat diidentifikasikan sebagai konsentrasi atau jumlah  perbandingan terendah yang dapat dikenali dengan betul.
3.    Ambang Pembedaan, juga disebut difference threshold,yang berbeda dengan ambang pengenalan dan juga ambang mutlak. Ambang pembedaan merupakan perbedaan terkecil dari rangsangan yang masih dapat dikenali. Besarnya ambang pembedaan tergantung dari jenis rangsangan, jenis  penginderaan dan besarnya rangsangan itu sendiri. Ambang pembedaan menyangkut dua tingkat kesan rangsangan yang sama. Jika dua rangsangan tersebut terlalu kecil bedanya maka akan menjadi tidak dapat dikenali  perbedaannya. Sebaliknya jika dua tingkat rangsangan itu terlalu besar akan dengan mudah dikenali. Difference threshold dapat ditentukan dengan menggunakan standar lebih dari satu, biasanya sekitar empat standar. Masing-masing standar akan dibandingkan dengan sampel-sampel pada interval konsentrasi tertentu. Perbedaan konsentrasi yang dapat dideteksi dengan benar oleh 75% panelis adalah perbedaan konsentrasi yang mencerminkan difference threshold (Kartika dkk 1988). Ambang pembedaan berbeda besarnya tergantung dari beberapa faktor. Disamping tergantung pada jenis rangsangan dan jenis penginderaan  juga tergantung pada besarnya rangsangan itu sendiri.
4.    Ambang Batas, disebut juga terminal threshold yang merupakan rangsangan terbesar yang jika kenaikan tingkat rangsangan dapat menaikan intensitas kesan. Apabila pada ketiga ambang tersebut diatas diterapkan batas terendah maka pada ambang batas diterapkan batas atas. Kemampuan manusia memperoleh kesan dari adanya rangsangan tidak selamanya sebanding dengan besarnya rangsangan yang diterima. Rangsangan yang terus menerus dinaikan pada suatu saat tidak akan menghasilkan kenaikan intensitas kesan. Rangsangan terbesar jika kenaikan tingkat rangsangan menaikkan intensitas kesan disebut ambang batas. Ambang batas juga bisa ditentukan dngan menetapkan rangsangan terkecil yaitu jika kenaikan tingkat rangsangan tidak lagi mempengaruhi btingkat intensitas kesan
Metode pengujian threshold merupakan salah satu metode untuk pengujian panelis dalam penentuan sensitivitas. Metode ini digunakan untuk menentukan tingkat konsentrasi terendah suatu substansi yang dapat dideteksi (absolute threshold) atau perubahan konsentrasi terkecil suatu substansi yang dapat dideteksi perubahannya (difference threshold). Biasanya substansi yang akan dikaji dilarutkan dalam air murni, dan panelis diminta untuk menilai sample mana yang berbeda dengan air, dalam hal ini air murni juga disajikan sebagai pembanding (Kartika dkk., 1988).
Selain itu metode ini juga dapat digunakan untuk mengenal macam-macam stimulusnya (recognition threshold), misalnya asin, manis, dan lain-lain. Recognition threshold umumnya lebih tinggi dari pada absolute threshold. Metode ini pula kadang-kadang digunakan untuk seleksi panelis, namun beberapa peneliti menganggap cara ini kurang tepat dipakai, karena keberhasilan dalam menguji larutan murni tidak dapat dipakai sebagai kriteria keberhasilan dalam menguji sampel yang mengandung bermacam-macam zat dengan konsentrasi yang berbeda, selain itu ada kelemahannya, yaitu  pada penentuan threshold biasanya yang disajikan adalah larutan satu macam substansi, sedangkan dalam makanan, rasa makanan merupakan campuran berbagai rasa (Kartika dkk., 1988)
Hubungan antara rangsangan fisik dan kesan atau tanggapan psikologis tidak selalu mudah mengukurnya. Hal ini disebabkan oleh karena besaran tanggapan psikologis tidak selamanya mudah diukur. Tanggapan psikologis dihasilkan dari kemampuan fisio-psikologis seorang panelis. Kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi andalan seseorang untuk menjadi seorang panelis. Kemampuan psikologis dapat dikelompokkan menjadi lima tipe, yaitu kemampuan mendeteksi, kemampuan mengenal (recognition), kemampuan membedakan (discrimination), kemampuan membandingkan (scalling) dan kemampuan hedonik (Soekarto, 1985).
Aplikasi uji treshold dalam industri pangan adalah untuk menseleksi panelis atau karyawan yang akan ditempatkan di bagian quality control ataupun research and development. Aplikasi lainnya adalah apabila kita akan mebuat formulasi baru untuk suatu produk dengan tingkatan konsentrasi yang berbeda maka dapat dilakukan uji treshold untuk dapat mengetahui sejauh mana konsumen mengetahui perubahan pengenalan rangsangan yang berasal dari produk baru yang akan kita buat (Soekarto, 1985).
II. Tujuan Praktikum
Untuk menentukan ambang mutlak dan ambang pengenalan dari suatu larutan dengan rangsangan tunggal dan uji pasangan.
III. Bahan
Larutan gula, larutan garam
III. Cara Pengujian
1.    Rangsangan tunggal
Memberikan nilai 0 apabila tidak memberikan rangsangan dan nilai 1 apabila memberikan rangsangan.
2.    Uji pasangan
Memberikan nilai 0 apabila sampel tidak berbeda dengan standar, dan nilai 1 apabila berbeda dengan standar.

VI. Hasil Pengujian
Berdasarkan hasil pengujian uji rangsangan tunggal dan uji pasangan, diperoleh data dari 11 orang panelis yaitu seperti pada tabel.
Tabel 1. Rekapitulasi data uji rangsangan tunggal dan uji pasangan
1.    Uji rangsangan tunggal
Jumlah data uji rangsangan tunggal menggunakan berbagai konsentrasi gula dengan jumlah panelis 11 orang.
Tabel 2. Analisis Regresi Uji Rangsangan Tunggal
x(%)
Kode
Y
Y(%)
XY
X2
Y2
0,025
395
0
0
0
0,000625
0
0,03
638
0
0
0
0,0009
0
0,035
103
0
0
0
0,001225
0
0,04
964
1
100
4
0,0016
10000
0,045
244
0
0
0
0,002025
0
0,05
528
0
0
0
0,0025
0
0,055
430
0
0
0
0,003025
0
Jumlah

1
100
4
0,0119
10000


Coefficients
Standard Error
t Stat
P-value
Lower 95%
Upper 95%
Lower 95.0%
Upper 95.0%
Intercept
14,28571429
64,52337
0,221404
0,833536
-151,577
180,1483
-151,577
180,1483
X Variable 1
-1,3428E-13
1564,922
-8,6E-17
1
-4022,76
4022,759
-4022,76
4022,759


Berdasarkan t tabel, dapat dilihat nilai dari t yaitu 2,447.
t hitung < t tabel.
Adapun dengan cara perhitungan pada pengujian ambang rasa (uji threshold) hasilnya sama dengan perhitungan menggunakan rumus:
Dan untuk penentuan nilai y dapat dicari dengan rumus : y=a + bx; dimana nilai x merupakan nilai ambang mutlak yang merupakan konsentrasi terkecil.
2.    Uji pasangan
Jumlah data uji pasangan menggunakan berbagai konsentrasi garam dengan jumlah panelis 11 orang.
Tabel 3. Analisis Regresi Uji Pasangan
X%
Y
Y%
X.y
X2
Y2
0,025
10
15,15151515
0,378788
0,000625
229,5684
0,03
9
13,63636364
0,409091
0,0009
185,9504
0,04
10
15,15151515
0,606061
0,0016
229,5684
0,045
11
16,66666667
0,75
0,002025
277,7778
0,055
10
15,15151515
0,833333
0,003025
229,5684
0,035
8
12,12121212
0,424242
0,001225
146,9238
0,05
8
12,12121212
0,606061
0,0025
146,9238
0,28
66
100
4,007576
0,0119
1446,281


Coefficients
Standard Error
t Stat
P-value
Lower 95%
Upper 95%
Lower 95.0%
Upper 95.0%
Intercept
4,040833
2,948189
1,370616
0,219557
-3,17312
11,25479
-3,17312
11,25479
X Variable 1
241,6905
76,44108
3,161788
0,019521
54,6459
428,735
54,6459
428,735

Adapun dengan cara perhitungan pada pengujian ambang rasa (uji threshold) hasilnya sama dengan perhitungan menggunakan rumus:
Dan untuk penentuan nilai y dapat dicari dengan rumus : y=a + bx; dimana nilai x merupakan nilai ambang mutlak yang merupakan konsentrasi terkecil.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai dari x yaitu : -0,014650 atau 1,465% untuk nilai ambang mutlak y=50% sedangkan untuk nilai ambang pengenalan dengan y=75% diperoleh nilai x yaitu: 0,013615 atau 1,3615.
VI. Pembahasan
Metode uji thershold digunakan untuk menentukan tingkat konsentrasi terendah suatu substansi yang dapat dideteksi (absolute threshold) atau perubahan konsentrasi terkecil suatu substansi yang dapat dideteksi perubahannya (difference threshold) (Kartika dkk., 1988).
Pada praktikum uji threshold, pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel larutan gula dan larutan garam dengan berbagai konsentrasi. Panelis diminta untuk memberikan nilai 0 pada sampel yang tidak memberikan rangsangan pada uji rangsangan tunggal dan pada sampel yang tidak memberikan perbedaan dengan sampel standar pada uji pasangan, serta memberikan nilai 1 pada sampel yang memberikan rangsangan pada uji rangsangan tunggal dan memberikan nilai 1 pada sampel yang memberikan perbedaan dengan sampel standar pada uji pasangan.
1.    Uji rangsangan tunggal
Berdasarkan hasil pengujian pada uji rangsangan tunggal pada tabel 2. diketahui dari 11 orang panelis yang menyatakan benar hanya 1 orang. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai dari t hitung yaitu 0, sedangkan berdasarkan t tabel nilainya yaitu 2,447. Dari data yang diperoleh didapat t hitung lebih kecil dibandingkan dengan t tabel. Hal ini dapat disimpulkan dari ke 11 panelis tersebut tidak memiliki kepekaan terhadap uji rangsangan tunggal.
2.    Uji Pasangan
Berdasarkan hasil pengujian pada uji pasangan yang dapat dilihat pada tabel 3. diketahui dari 11 orang panelis yang menyatakan terdapat perbedaan pada sampel dengan konsentrasi 0,025 sebanyak 10 panelis, konsentrasi 0,03 sebanyak 9 panelis, konsentrasi 0,04 sebanyak 10 panelis, konsenterasi 0,045 sebanyak 11 panelis, konsnetrasi 0,055 sebanyk 10 panelis, konsentrasi 0,035 sebanyak 8 panelis dan konsentrasi 0,05 sebanyak 8 panelis. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai dari t hitung yaitu 3,161788 sedangkan berdasarkan t tabel nilainya yaitu 2,365. Dari data yang diperoleh didapat t hitung lebih besar dibandingkan dengan t tabel. Hal ini dapat disimpulkan dari ke 11 panelis tersebut memiliki kepekaan pada uji pasangan. Berdasarkan dari tabel perhitungan, pada konsentrasi 5 % dengan jumlah panelis 11 yaitu 10. Maka dianggap Beda Nyata ( BN ), hal ini karena nilai yang dihitung lebih besar dari tabel. Kondisi ini juga mungkin disebabkan karena panelis berkonsentrasi penuh pada saat melakukan pengujian tersebut. Keadaan fisik dan psikologis panelis yang baik mempengaruhi keberhasilan panelis dalam memberikan respon benar terhadap benda rangsang ( Kartika,dkk.,1987 ).
Sedangkan untuk ambang mutlak yang diperoleh yaitu 1,465% sedangkan untuk nilai ambang pengenalan yaitu 1,3615%. Ambang mutlak ditentukan oleh besarnya konsentrasi dengan daya deteksi pada grafik regresi. Ambang mutlak ditentukan oleh 50% panelis, dan ambang pengenalan ditentukan oleh 75% panelis. Dalam dunia industri, ambang batas sangat diperlukan karena hal ini bertujuan untuk efisiensi bahan baku yang digunakan. 
Kepekaan panelis terhadap uji pasangan lebih baik dibandingkan ketika pengujian rangsangan tunggal, hal ini kemungkinan disebabkan oleh kecerobohan panelis saat pengujian seperti lupa tidak menetralkan mulut  dengan air putih ketika akan melakukan uji pada sampel lain ataupun disebabkan karena kondisi tubuh panelis yang kurang sehat sehingga tidak dapat membedakan rasa dari sampel.
VII. Kesimpulan
1.    Pada uji rangsangan tunggal rasa belum bisa diidentifikasi oleh panelis sehingga tidak diperoleh nilai yang tepat untuk ambang mutlak dan ambang pengenalan.
2.    Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai ambang mutlak pada uji pasangan yaitu yaitu 1,465% . Pengukuran ambang mutlak didasarkan pada konvensi bahwa setengah (50%) dari jumlah panelis dapat mengenal atau dapat menyebutkan dengan tepat akan sifat sensoris yang dinilai. Sedangkan ambang pengenalan untuk uji pasangan nilai yang diperoleh yaitu 1,3615%. Pengukuran ambang  pengenlan didasarkan pada 75% panelis dapat mengenali rangsangan.

B. UJI DUO TRIO
I. Teori
Uji duo trio termasuk dalam kelompok pengujian pembedaan (difference test). Pengujian pembedaan digunakan untuk menilai pengaruh macam – macam perlakuan modifikasi proses atau bahan dalam pengolahan pangan bagi industri, atau untuk mengetahui adanya oerbedaan atau persamaan antara duo produk dari komoditi yang sama. Yang terakhir ini terutama dari segi konsumen (Soekarto, 1985).
Uji duo trio adalah uji yang digunakan untuk mendeteksi adanya perbedaan yang kecil antara dua contoh. Uji ini relatif lebih mudah karena adanya contoh baku dalam pengujian. Biasanya Uji Duo-trio digunakan untuk melihat perlakuan baru terhadap mutu produk ataupun menilai keseragaman mutu bahan. ( Anonim1,2013)
Pengujian duo-trio ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan dua buah sampel atau mendeteksi. Perbedaan sifat yang tingkat perbedaannya hanya sedikit, misalnya untuk mendeteksi perbedaan sifat-sifat hasil yang diperoleh dari dua kondisi yang sedikit berbeda. Uji duo-trio merupakan salah satu uji pembeda.Uji pembeda ini biasanya digunakanuntuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara sampel yangdisajikan. Pada duo-trio ini digunakan sampel pembanding. (Kartika,dkk.,1987).
Uji duo-trio di dalam industri pangan dapat digunakan salah satunya adalah untuk reformulasi suatu produk  baru, sehingga dapat diketahui ada atau tidaknya perbedaan antara produk lama dan baru. Kelemahan uji duo trio adalah sulit mendeskripsikan sampel yang sama dengan pembanding karena panelis akan sulit untuk mengingat secara detail bahan yang sedang dianalisis, biasanya uji ini dapat dilakukan dengan mudah oleh seseorang yang memiliki daya ingat yang tinggi (Anonim2, 2011).
II. Tujuan Praktikum
Mampu mengenali contoh produk yang sama dengan contoh baku.
III. Bahan
Filma, palmia
IV. Cara Pengujian
·         Memilih salah satu contoh yang sama dengan contoh baku dari segi warna, rasa dan bau.
·         Memberikan tanda 1 atau ceklis pada sampel yang sama dengan contoh (R)
V. Hasil Pengujian
Tabel 4. Rekapitulasi Data Hasil Uji Duo Trio
Nama Panelis
Uji Duo Trio
Bau
Rasa
Warna
R
161
304
R
161
304
R
161
304
Arrafi Diena

0
1

0
1

0
1
Asri Oktaviani

1
0

0
0

1
1
Dwinda P

1
1

1
0

1
1
Fadhil

0
1

0
1

0
1
Iis Sa'diyah

1
0

0
0

1
1
Nurul Inten

0
1

0
1

0
1
Olin Marlina

0
1

1
0

0
0
Sarah Nastiti

0
1

0
0

1
1
Trimelia

0
1

0
1

0
1
Winni Tirnita

0
1

0
1

0
1
Yuni Suryani

0
1

0
1

0
1
Jumlah

3
9

2
6

4
10
Sampel                             : Filma, palmia
Keterangan sampel           : 161 = Filma
                                           304 = Palmia
                           Tabel 5. Jumlah Beda Nyata Uji Pasangan
Jumlah terkecil untuk beda nyata tingkat
Jumlah panelis
5%
1%
0,10%
11
10
11
11
VI. Pembahasan
Uji duo trio digunakan untuk mendeteksi adanya perbedaan yang kecil antara dua contoh. Biasanya uji duo trio digunakan untuk melihat perlakuan baru terhadap mutu produk ataupun menilai keseragaman mutu bahan (Muda, 2011).
Pada praktikum uji duo trio, contoh sampel yang digunakan yaitu filma berkode 161 dan palmia berkode 304. Praktikum dilakukan dengan membandingkan bau, rasa dan warna terhadap 2 contoh sampel dengan pembanding (R). 
Pada tabel 5, dapat diketahui dari 11 orang panelis untuk menyatakan adanya perbedaan dari kedua  contoh uji dengan 1 contoh pembanding dibutuhkan minimal sebanyak 10 respon tepat untuk tingkat 5%, 11 respon tepat untuk tingkat 1 % dan 11 respon untuk tingkat 0,1%. Jika jumlah respon kurang dari 10 maka kesimpulannya tidak terdapat perbedaan yang dapat dideteksi dari ketiga jenis sampel.
Berdasarkan hasil rekapitulasi data yang dapat dilihat pada tabel 4, diketahui dari 11 orang panelis yang menyatakan benar untuk kesamaan dengan contoh R meliputi bau, rasa dan warna pada sampel Filma yaitu 3, 2 dan 4 orang. Sedangkan untuk bau, rasa dan warna pada sampel Palmia yang memilih benar untuk kesamaan dengan contoh R yaitu 9, 6 dan 10 orang.
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk bau, rasa dan warna pada sampel Filma belum bisa dikatakan memiliki karakteristik mutu yang berbeda dan untuk bau dan rasa pada sampel palmia juga belum bisa dikatakan memiliki karakteristik mutu yang berbeda karena jumlah panelis yang menyatakan sama masih dibawah persyaratan yang diminta. Namun untuk warna pada sampel palmia bisa dikatakan memiliki karakteristik yang berbeda pada tingkat kepercayaan 99,9% atau terdapat perbedaan pada tingkat 5%.
VII. Kesimpulan
Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, didapat untuk uji warna pada sampel palmia bisa dikatakan memiliki karakteristik yang berbeda pada tingkat kepercayaan 99,9% atau terdapat perbedaan pada tingkat 5%. Sedangkan untuk bau, rasa dan warna pada sampel filma belum bisa dikatakan memeiliki karakteristik mutu yang berbeda karena jumlah panelis yang menyatakan sama masih dibawah persyaratan.

C. UJI TRIANGLE
I. Teori
Pengujian triangle merupakan salah satu bentuk pengujian pembeda, dimana dalam pengujian ini sejumlah contoh disajikan tanpa menggunakan pembanding (Kartika,1987). Ada bermacam-macam metode pengujian organoleptik yang dapat digolongkan dalam beberapa kelompok. Metode pengujian yang populer adalah kelompok pengujian pembedaan (difference test) dan kelompok pengujian pemilihan (preference test), yang banyak digunakan dalam penelitian, analisis proses dan penilaian hasil akhir.
Uji pembedaan triangle digunakanuntuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara sampel yang disajikan, baik dari warna, rasa,maupun aroma. Dalam pengujian triangle , panelis diminta untuk memilih salah satu sampel yangberbeda dari tiga sampel yangdisajikan, sehingga dapat diketahuiperbedaan sifat diantara ketiga sampel itu (Soekarto, 1985).
Pembedaan adalam uji triangle tidak terarah, tidak perlu disertai pernyataan sifat  yang satu lebih dari yang lainnya, cukup menyatakan ada perbedaan atau tidak. Pengujian ini lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji berpasangan. Dalam pengujian ini kepada masing-masing panelis disajikan secara acak tiga contoh produk dengan kode Berbeda dimana dua dari ketiga produk sama. Panelis diminta memilih satu diantara tiga contoh mana yang mempunyai perbedaan. Keseragaman tiga contoh sangat pentingseperti ukuran atau bentuk. Sifat contoh yang tidak sama dimiliki dari ketiga contoh tersebutdibuat sama (Soekarto, 1985 dalam Tjahjaningsih, 1998).
Uji segitiga atau uji triangle ini digunakan untuk mendeteksi perbedaan yang kecil. Pengujian ini lebih banyak digunakan karena lebih peka dari pada uji pasangan. Uji ini mula- mula diperkenalkan oleh dua orang ahli statistik denmark padatahun 1946. Dalam pengujian ini kepada masing-masing panelis disajikan secara acak tiga contoh berkode. Pengujian ketiga contoh itu biasanya dilakukan bersamaan tetapi dapat pula berturut-turut. Dua daritiga contoh itu merupakan contoh yang sama, dan yang ketiga berlainan. Panelis diminta untuk memilih satu dari tiga contoh yangberbeda dari dua lainnya. Dalam uji ini tidak menggunakan ataupun tidak disediakan contoh baku atau pembanding (Kartika, 1987).
Uji triangle yang digunakan bersifat sederhana, artinya hanya untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua macam sampel, tetapi ada pula yang bersifat lebih terarah, yaitu untuk mengetahui sejauh mana perbedaan antara dua buah sampel yang disediakan  (Kartika, 1987).
Uji triangle digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar sampel yang disajikan, baik dari warna, rasa maupun bau. Dalam pengujian triangl, panelis diminta untuk memilih salah satu sampel yang berbeda dari tiga sampel yang disajikan, sehingga dapat diketahui perbedaan sifat di antara ketiga sampel itu (Rihanz 2010).
II. Tujuan Praktikum
Mampu membedakan contoh produk dari dua contoh yang sama dari segi bau, rasa dan aroma.
III. Bahan
Sambal indofood, sambal ABC.
IV. Cara Pengujian
·      Memilih salah satu contoh yang sama dengan contoh baku dari segi warna, rasa dan bau.
·      Memberikan tanda 1 atau ceklis pada sampel yang sama dengan contoh (R)





V. Hasil Pengujian
Tabel 6. Rekapitulasi Data Hasil Uji Triangle
Nama Panelis
Uji Triangle
Bau
Rasa
Warna
760
490
218
760
490
218
760
490
218
Arrafi Diena
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Asri Oktaviani
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Dwinda P
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Fadhil
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Iis Sa'diyah
0
1
1
0
1
1
0
1
1
Nurul Inten
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Olin Marlina
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Sarah Nastiti
0
1
0
0
0
1
0
1
0
Trimelia
0
1
0
0
1
0
0
0
1
Winni Tirnita
0
1
0
0
1
0
0
1
0
Yuni Suryani
0
1
0
0
1
0
1
0
0
Jumlah
0
11
1
0
10
2
1
9
2

Sampel                             : sambal Indofood, sambal ABC
Keterangan sampel           : 760 = Indofood
              218 = Indofood
              490 = ABC
Tabel 7. Jumlah Beda Nyata Uji Triangle
Jumlah terkecil untuk beda nyata tingkat
Jumlah panelis
5%
1%
0,10%
11
7
8
10
VI. Pembahasan
Uji segitiga (Triangle) merupakan bentuk pengujian pembedaan pada uji organoleptik tanpa menggunakan pembanding. Uji ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar sampel yang disajikan, baik dari segi rasa, warna dan aroma. Pada pengujian triangle, panelis diminta untuk memilih salah satu sampel yang berbeda dari tiga sampel yang disediakan, sehingga dapat diketahui perbedaan sifat diantara ketiga sampel tersebut (Rihanz, 2010).
Berdasarkan hasil pengujian, pada tabel 6 diketahui  bahwa dari 11 orang panelis yang menyatakan terdapat perbedaan dengan contoh lain dari segi rasa, warna dan aroma yaitu 11, 10 dan 9 orang pada sampel ABC yang berkode 490. Menurut tabel 7, untuk menyatakan adanya perbedaan atau paling berbeda diantara ketiga sampel dibutuhkan minimal sebanyak 7 respon tepat untuk tingkat 5%, 8 respon tepat untuk tingkat 1% dan 10 respon tepat untuk tingkat 0.1%. Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa bau,  rasa dan warna pada sampel ABC berkode 490 berbeda nyata baik untuk tingkat 5%, 1% ataupun 0,1%.
Dalam penilaian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pengujian, yaitu motivasi, sensitivitas fisiologis, kesalahan psikologis, sugesti, expectation eror dan convergen eror.
VII.Kesimpulan
Dari hasil pengujian triangle yang telah dilakukan, dapat disimpulkan panelis mampu memilih satu contoh yang berbeda dengan contoh lainnya baik dari segi bau,  rasa dan warna yaitu pada sampel ABC untuk beda nyata baik tingkat 5%, 1% ataupun 0,1%. Diantara ketiga uji pembedaan, uji triangle merupakan uji yang mudah dikenali adanya perbedaan oleh panelis.

DAFTAR PUSTAKA
Kartika, B ; Hastuti, P dan Supartono,W, (1987), Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan, PusatAntar Universitas Pangan danGizi, Yogyakarta.
Rihanz.2010.Persiapan uji organoleptik [Online]. Tersedia pada: http://www.scribd.com (18 Oktober 2014)
Soekarto, Soewarno T.(1981).Penilaian Organoleptik, untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian, PUSBANGTEPA / Food Technology Development Center, Institut Pertanian Bogor.
Soekarno, S.T.1985. Penilaian Organoleptik Untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bharata Karya Aksara: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar